Bersyukur: Sebuah Jawaban atas Mula Ketidaklapangan Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaahirrabbil ‘aalamiin. Puji syukur kehadirat Allah swt. Akhirnya, tanda tanya yang membayang-bayangi diri selama ini terjawab sudah. Beban diri atas ketidaklapangan hati di awal sudah semakin pudar. Demi ketidaklapangan hati itu, ya, sudah aku lakukan di semester dua ini. Ya, benar mungkin, sepertinya begitu memang.

Alhamdulillah… Benar, rasa kecewa itu ada. Namun, rasa lega itu cukup menutupinya. Rasa syukur atas kesempatan yang Allah berikan untuk menilai diri, untuk mengukur diri, dan belajar. Rasa syukur atas nikmatnya mengalami sesuatu yang, ahh, entahlah, aku tak dapat menggambarkannya lewat kata-kata.

Ya, semester ini. Aku tak kan menyalahkan siapa pun, pun diriku sendiri, apalagi orang lain. InsyaAllah. Lagipula, aku yang berniat di awal begitu. Demi ketidaklapangan hati, aku harus membayarnya. Baik. Aku telah membayarnya, atau mungkin belum lunas? Aku tak tahu. Sekarang setidaknya aku telah hampir menghilangkan ketidaklapangan hati itu. Apa yang aku dapatkan sekarang telah mengubah ketidaklapangan hati di awal itu menjadi sebuah kesyukuran tersendiri. Alhamdulillah..

Hanya saja, aku tetap harus ingat tugasku. Apa yang kumau di awal sudah terlihat hasilnya–buah dari kelakuan dan apa yang aku usahakan. Ya, begitu kiranya. Sekarang, bumi masih berputar, waktu masih berjalan. Masih ada esok hari yang menanti untuk kuukir indah. Masih ada masa depan yang menunggu untuk disapa dengan membawa sebanyak-banyak buah tangan–kebermanfaatan. Oke, sekarang sudah cukup puas bukan ‘mainnya’? Akhirnya apa yang kau nanti dan ingini (secara tak sadar dan tak langsung dengan sikapmu itu) sudah membuahkan hasil dan yeah, hari baru dimulai. Mari menatap esok hari, menanti mentari menyinari.

Sekarang, wahai diri, kau sudah belajar kan? Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan. Buah tangan–kebermanfaatanmu dinanti. Jadi, ayo, tolong, ingatlah ini: “khairunnaasi anfa’uhum linnaas”. Ingat itu, jalani dengan ikhlas sepenuh hati, tak perlu lagi kau pikirkan untuk mengubah masa lalu. Cukup bersyukur atas yang terjadi di masa lalu dan ukirlah masa depanmu dengan indahmu dan ingat mohon rida-Nya. Sekali lagi, semua berawal dari niat–tekad. Niatkan karena Allah untuk melakukan yang terbaik, selalu. Ingat itu. Untuk Allah, sekali pun jangan kau niatkan untuk ber’main’. Oke! 😀
(Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga ingat selalu. Aamiin.)

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s