Senja, Kala Mentari Menyisakan Rona Jingga di Langit

Senja kala itu, rona jingga yang mengintip di balik jendela. Indah. Lagi, untuk kesekian kalinya aku mengaguminya. Entah mengapa, padahal dulu aku membencinya. Bukan tanpa alasan. Ada sekeping memori yang menyisakan pedih di hati.

Kala itu, senja tampak biasa. Ya, biasa karena aku tak mengaguminya. Lain dengan sahabatku ini. Dia amat mengaguminya, begitu tertarik dengannya.

“Hei, nona”, begitu sapaan akrabnya padaku.

“Hmm..” aku menoleh padanya dengan raut tanya.

“Tahukah kau kenapa aku mengaguminya?”, tanyanya padaku sambil menunjuk ke langit senja. Mataku pun tertuju pada langit jingga dengan sinar mentari yang membuatku sedikit memicingkan mata.

“Kenapa?” balasku bertanya sambil menoleh pada wajah lugunya yang terkagum.

“Karena ayahku”, jawabnya singkat masih dengan senyum khasnya.

“Karena ayahmu? Hanya itu?” tanyaku heran.

“Tentu tidak sebatas itu, semua ini karena dia mengajariku membuka mata. Dia mengajariku untuk mencari keagungan-Nya. Dia mengajariku untuk menikmati indah karunia-Nya, sekecil apapun itu.”

“Lalu, apa hubungannya?”, aku tak menangkap maksud perkataannya. Seperti biasa, dia selalu membuatku bingung. Tidak hanya aku mungkin. Dia memang begitu. Pandangannya lain, sulit dicerna orang lain.

“Sudah kuduga. Seperti biasa, kau pasti tak langsung dapat menangkapnya. Hihihiii.. mana mungkin kau dapat mengerti maksudku sedang aku ngelantur..”, jelasnya dengan candaannya yang seperti biasa. Tidak lucu, tapi aneh.

“Jadi yang kau katakan tadi bohong?” tanyaku memperjelas maksudnya.

“Iiihh, kau ini. Serius amat. Bohong enggak ya? mmm…”

Sejenak dia diam, raut wajahnya yang tadi sumringah berubah. Seolah-olah teringat akan sesuatu.

“Sebenarnya, bukan ayahku yang mengajariku, tapi Dia sendiri yang telah mengajariku keagungan dan kuasanya lewat ayahku. Sedangkan senja itu… senja itu yang membuatku sadar, sadar akan keagungan-Nya. Senja itu yang selalu menemaniku menikmati waktu berdua dengan ayahku di perjalananku pulang.”

Dia terdiam lagi. Aku tak sabar menunggunya meneruskan cerita.

“Aku jarang bersama ayahku, makanya aku sangat menikmati waktu saat bersamanya. Dia yang selalu setia mengantar dan menjemputku sekolah sampai aku SMA. Tapi, saat SMA lain. Biasanya dia menjemputku di akhir pekan karena aku tinggal di kos selama hari sekolah. Memang, tidak selalu aku dijemputnya. Tidak juga dia selalu menjemputku saat senja tiba, tapi yang paling aku senangi dan nikmati adalah saat senja. Senja, kala matahari menyisakan rona jingga di langit. Kala sinarnya bak orang bermain petak umpet di balik bukit. Sesekali kupincingkan mata. Indah, sungguh indah. Semilir angin di pematang sawah menambahkan kesejukan di hati. Aihh senangnya. Dibonceng bapak naik motor lewat tengah sawah, bisa liat matahari mau tenggelam pula. Sesekali aku menyempatkan diri untuk mengambil ponselku dan mengambil gambarnya. Hehe, sayang, gambarnya kabur. Jadinya miring, hehe..”

“Rrr… iyalah. Aneh-aneh saja kau ini, kecuali kalau kamera yang kaupakai bisa disetting fokus sama kecepatan jepretnya”, komentarku.

“Sok tahu kamu, non.. hehehe”, balasnya berkomentar.

“Iya iya, sista..”, jawabku mengalah. Aku memang tak tahu apa istilahnya itu. “Terus?”, tanyaku.

“Ya gitu. Saking seringnya dijemput bapak pas sore hari, eh, lama-lama kagum juga nih sama senja. Ya Allah, indah nian lukisan-Mu. Jika berkenan, izinkan aku mengabadikan setiap detik indahnya. Biarkan senjaku nanti seindah lukisan senja-Mu. Aamiin.” Diakhirilah ceritanya dengan melantunkan do’a pada Sang Pencipta.

“Aamiin.” Aku pun mengamininya saja.

Saat itu, aku tak menangkap kalau ada harapan khusus di akhir do’amu itu.

Aku pun melangkahkan kakiku ke taman, tempat biasa kau mengajakku menghabiskan waktu di sore hari. Taman tempatmu mengagumi lukisan senja-Nya. Kini, tak ada lagi  yang mengajakku ke mari seperti dulu. Engkau sudah mendapati senjamu seperti inginmu saat itu. Engkau telah mendapati senjamu yang elok, indah seperti keinginanmu dulu. Senyummu di senjamu menandakan itu.

Ya, aku memang pernah membencinya, senja yang kau kagumi. Semua itu karena senja yang kau kagumi itu selalu menggangguku, mengganggu hari-hariku. Senja itu yang selalu mengingatkanku akan dirimu. Mengingatkanku akan setiap memori bersamamu. Aku tak ingin hari-hariku terus dibayang-bayangi memoriku bersamamu. Aku harus lepas dari memori itu.

Ternyata aku salah, bukan senja yang membuatku terpuruk. Bukan senja yang bersalah. Akulah yang  salah. Aku yang takut mengingatmu. Aku yang takut mengingat masa laluku bersamamu. Aku yang tak lapang. Aku yang belum siap atas kepergianmu.

Kini, semoga engkau bahagia di sana, seperti inginmu dulu. Kau ingin lebih dari ciptaan-Nya yang itu bukan? Aku yakin, kau tak perlu cemburu lagi karena insyaAllah kau sudah lebih dari ciptaan-Nya yang itu. Kini, di sini aku juga ingin bisa lebih dari ciptaan-Nya yang itu. Aku akan berusaha sepertimu, mebaikkan diriku hingga aku pantas mendapatkan senja yang indah, seperti senjamu.

Advertisements

2 thoughts on “Senja, Kala Mentari Menyisakan Rona Jingga di Langit

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s