Satu Kata yang Menggelitik

Siluet si Rumah Bundar :)

Siluet si Rumah Bundar 🙂

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah. Setelah sekian lama tidak menulis di blog ini. Ya, saya nyoba nulis lagi. Sepertinya ada beberapa hal yang perlu dan ingin saya tulis.

Hari ini, cukup banyak membuka saya—pikiran saya lebih tepatnya. Mmm, gimana ya? Selesai ikutan CS Meering (Computer Science Meeting and Sharing) yang diadain anak Ilkom tadi rasanya ada energi yang menyusup ke dalam diri. Wuuhh, Alhamdulillah. Seperti mendapatkan suntikan semangat.

Mimpi, bermimpi. Itu awal kita, permulaan kita. Karena mimpi, kita berusaha dan bekerja untuk menggapainya. Karena mimpi, kita terdorong untuk bergerak dan bekerja meraihnya. Mimpi, mimpi di sini bukan mimpi kosong. Bukan mimpi tanpa langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Mimpi ini nyata. Mimpi yang membawa kaki melangkah mendekatinya, membawa diri bekerja lebih untuk menggapainya.

Mimpi. Tidak hanya itu. Konsistensi juga perlu. Tak ayal, apalah itu yang namanya malas, penat, ataupun bosan kapanpun bisa muncul. Terus, kalo udah muncul, kita ngapain? Hmm, yah itulah perlunya konsistensi. Segala halangan dan rintangan pasti ada. Apapun pilihan yang kita ambil, semua ada risikonya. Jika kita menghindar, bukan berarti kita bebas dari rintangan, justru itu bisa memunculkan rintangan-rintangan lain.

Konsistensi. Terus-menerus. Istiqomah. Berat? Iya. Tapi tidak ada yang berat di mata Allah. Hmm, diri ini masih perlu banyak belajar. Konsistensi. Sangat perlu. Percuma kita memulai dan stag pada satu kondisi yang mengganjal dan menghalangi kita lalu beralih ke yang lainnya. Sepertinya, konsistensi ini tak lepas juga dari fokus dan kesabaran.

Wahh, jadi banyak yang musti dilakuin ya? hmm… setelah bermimpi, kita harus memulainya, memulai langkah untuk menggapainya. Tidak sampai di ditu saja. Kita juga mesti konsisten dan fokus. Ada masalah? Ya, masalah pasti ada sekalipun kau menghindar darinya. Dia bisa datang dari mana saja. Karena itu, kita perlu sabar. Laa tahzan, innallaha ma’ana. Ya, kalimat itu, semoga menjadi penghibur di kala sedih dan susah. Aamiin.

Oh ya, kita juga perlu tahu apa passion kita. Hmm, passion ya? lagi-lagi passion. Ya, tapi itulah. Bicara soal passion, selalu ada yang mengganjal, menggelitik, sekaligus sedikit menyindir juga. Padahal ga ada yang nyindir, tapi emang kerasa kesindir. Kalau ingat passion, jadi ingat esai PMB. Di esai itu saya nulis cita-cita, mimpi, dan passion saya. Ya, saat itu saya masih semangat (sakarang juga masih kok, insyaAllah tetap semangat :D). hmm, gimana ya? orang waktu itu emang rasanya seneng, tertarik, dan suka. Ya udah deh, ditulis aja dan dijadikan passion waktu itu karena waktu itu ngerasa insyaAllah bisa kok.

Eh, waktu emang ga berhenti kan ya? giliran sekarang. hmm, passion itu ya? apa bener itu passionku? Ya, mungkin  saya bisa kalau  saya mau usaha, tapi gimana kalo aku udah males duluan? Bisa sih insyaAllah dibuat seneng, tapi malasnya itu lho. Hmm, gimana ya? mungkin inilah yang jadi kebingungan selama ini. Sebenernya tujuannya apa, mau ngapain, passionnya apa? Apa iya itu passionku sebenernya? Tapi sekarang ada keinginan dan mimpi lain? Yang mana passionku sebenernya?

Seabrek dan segudang pertanyaan itu terus mengalir dan mengantri untuk dijawab. Ya. baiklah. Biarkan saya merenung, mencari kebenaran dan kepastian. Hmm, atau mungkin setidaknya berusaha mengikhlaskan niat dan usaha. Bismillah, kalau saya usaha, semoga bisa konsisten dan sabar. Fokus. Ikhlas, sabar, tawakal. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Man jadda wa jada. 🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s