“Islam Nemu Gedhe”

BIsmillaahirrahmaanirrahiim.

Hmm, yak. Di tengah hiruk pikuk suasana UTS, rasanya perlu sedikit refreshing (perasaan dari kemarin juga refreshing mulu, kapan belajarnya, mbaknyaakk?). Oke, setelah beberapa hari ini pengen nulis dan ga ada ide, ya udah deh sekarang nulis yang bisa ditulis dulu.

Alhamdulillah, ada topik yang sedikit menggelitik bagi saya untuk tulisan kali ini. Setelah baca-baca bacaan seperti biasa (apaan sih ini??), dan seperti biasa pula nemu sesuatu. Apakah itu? Apa ya?

Tarrraaaa… Sesuatu itu adalah kumpulan kata yang jadi kalimat. Tepatnya istilah atau perumpamaan atau terserah Anda mau menamainya apa. Anda sudah baca judul di atas kan? Oke, sudah pernah dengar? Sudah. Oke. Oh, ada yang belum? Atau belum semua? Ya sudah, daripada bingung dan nyari-nyari ga jelas (padahal enggak :P), saya coba jelasin aja ya.. 😀

Ya, kebetulan saya nemu istilah itu di salah satu artikel di situs ini (Fimadani). Nah, biasanya dan yang sering didenger itu istilah ‘mas nemu gedhe’. Istilah ini biasa dipake orang Jawa yang biasanya dipake buat orang yang nemu jodohnya pas udah gedhe (dewasa). Kenapa mas? Karena biasanya istilah ini ditujuin ke seorang perempuan dan kata ‘mas’ itu tandanya penghormatan. Jadi, ga ada istilah ‘adek nemu gedhe’ :D.

Oke, balik ke topik “Islam nemu gedhe”. Eh ya, kebetulan yang nulis artikel itu orang Purworejo (trus kenapa?), lumayan seneng lah yaa. Kali aja suatu saat nanti, ane bakal ikutan nyumbang artikel di sana. Aamiin.

Oke, balik ke topik (lagi). Dari istilah itu, saya nangkepnya gini, yang dimaksud “Islam nemu gedhe” di artikel itu tuh orang belajar dan mendalami Islam atau menjalankan Islam dengan benar dan sesuai syariat/tuntunan dan ga cuma ikut-ikutan saat dia udah gedhe (dewasa). Jadi, dia baru ngerti ini itu dan macem-macemnya pas udah gedhe. Mungkin waktu kecil dia cuma ngelakuin yang disuruh sama orang tua atau cuma ngelakuin yang wajib-wajib aja atau cuma ngelakuin apa yang orang lain lakuin (bukan plagiat, tapi bisa dibilang imitasi). Dia baru tahu hukum-hukumnya dan segala tuntunannya secara benar pas dia udah bisa dibilang gedhe.

Ya, mungkin banyak dari kita termasuk saya juga yang merasa baru benar-benar merasakan Islam dan mendalaminya lebih saat sudah bisa dibilang gedhe. Memang sih, kembali pada latar belakang keluarga dan tempat dibesarkan. Saya InsyaAllah tetap bersyukur dan sangat bersyukur masih diberi kesempatan. Mungkin saat masih kecil saya tidak banyak diajari banyak tentang Islam dan mungkin hanya diajari ngaji dan sholat trus dapet pelajaran Agama di sekolah trus cuma dipelajari dan ga semuanya diterapin. Mungkin sebelumnya saya hanya melakukan apa yang kebanyakan orang lakukan dan apa yang wajib saya lakukan tanpa tahu esensi sebenarnya apa, tanpa tahu nilai-nilai dan hikmah yang dikandungnya. Ya, seperti itu, tapi Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk belajar lebih dan mengenal Islam lebih jauh lagi.

Seperti pandangan saya dulu, teman-teman sebaya saya waktu SD, dan kebanyakan orang di daerah saya yang saya tahu menganggap orang dengan jilbab lebar dan cadar itu aneh dan tidak biasa. Ya, memang tidak biasa. Tapi, sekarang mata saya sudah mulai terbuka, setidaknya sudah lebih tahu dari sebelumnya bahwa memang ada dasarnya kenapa ada orang pake cadar. Kembali saya ingat sebuah hadits, kurang lebih bunyinya “Islam itu datang dalam kedaaan asing dan akan kembali dengan keadaan asing pula. Beruntunglah orang-orang yang asing itu.” Silakan dicerna dan disimpulkan sendiri.

Dulu, kalau ga salah sewaktu SMP, saya pernah berpikir. Waktu itu kan udah belajar tentang makhluk-makhluk Allah, seperti manusia, jin, malaikat, dll. Suatu saat saya hendak mengambil wudhu, kemudian sembat terbersit dalam pikiran saya kurang lebih begini, ‘Ya Allah, kenapa aku ga jadi malaikat aja. Malaikat kan selalu patuh sama perintah-Mu. Kalau manusia kan ada yang patuh, ada yang enggak. Kalau dia patuh, dia masuk surga, kalau enggak, nanti dia masuk neraka. Aku ga mau masuk neraka. Aku kadang enggak patuh, tapi aku ga pengen masuk neraka. Kenapa aku ga jadi malaikat aja yang nurut terus. Kan aku bisa masuk surga nanti.’

Ya Allah, kalau ingat itu, betapa bodoh dan tidak mengertinya diri ini. Sampai sekarang mungkin belum sepenuhnya mengerti, tapi setidaknya lebih mengerti. Seiring waktu, semakin bertambahnya ilmu, terkadang saya tersadarkan bahwa saya pernah berpikiran macam itu. Kembali saya ingat, bahwa tujuan manusia adalah untuk ibadah. Ya, kita tinggal memilih, mau taat atau membangkang. Kita juga tahu risikonya, tinggal kita pilih, mau surga atau neraka?

Hmm.. betapa diri ini belum mengerti sepenuhnya apa itu bersyukur. Bersyukur sudah diciptakan di dunia ini, diberi banyak kesempatan dan nikmat. Betapa diri masih sering lalai. Ya, saya ingat lagi, bahwa manusia itu bisa lebih mulia dari malaikat, jika dia taat dengan sebenarnya, tapi manusia juga bisa lebih rendah dari hewan sekalipun, jika dia selalu membangkang.

Oke, sekarang tinggal pilih, mau surga apa neraka? Jangan lupa, terus dan terus bersyukur. Bersyukur udah dikasih banyaaaaaaak banget sama Allah. Bersyukur udah dikasih dan dikasih terus dan terus sama Allah. Sekali jatuh, Allah selalu siap ngebantu, ngasih jalan keluar. Bersyukur terus dan terus. Selalu ada alasan untuk bersyukur, tapi semua kembali pada bagaimana kita memandang sesuatu, bisakah bersyukur? InsyaAllah. Semoga Allah melapangkan hati ini untuk terus dan terus bersyukur juga sabar. Bismillaahirrahmaanirrahiim.

🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s