Sederhana, Itu yang Kusuka darimu


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Terima kasih atas segala nikmat dan karunia-Mu. Banyak sekali, tak terhingga, sungguh. Sungguh, semua yang ada dalam diri ini sebenarnya milik-Mu. Ya Ghafuururrahiim, ampuni hamba-Mu yang lemah dan sering lalai ini, ampuni segala khilaf dan dosa hamba-Mu ini, dosa orang tua hamba, saudara-saudara hamba, muslimin, dan muslimat. Aamiin.

Sederhana, apa sih sederhana itu? Mungkin tidak ada deskripsi yang paten. Setiap orang punya persepsi dan pendapat sendiri akan makna kata ‘sederhana’  ini. Namun, pada dasarnya apa yang mereka maksud sama, hanya mereka memiliki kemampuan, keyakinan, dan pandangan sendiri mengartikannya.

Sederhana. Jika dipikirkan, ia tak lagi sederhana, justru bisa menjadi rumit, berbelit. Seperti yang pernah saya baca di suatu artikel (maaf, saya lupa di mana). Kurang lebih intinya seperti ini, sebenarnya tidak ada yang sederhana. Sederhana itu sendiri, jika kita pikirkan, dia tak lagi menjadi sederhana. Ya, apalah itu. Sederhana, rasakan saja, maka kau akan tahu apa itu. Lihat dan cermati!

Sederhana. Entah mengapa kata ini seperti memiliki ruang spesial di hati ini (ceilah..). Senang sekali aku dengannya. Ya, meskipun sebenarnya bukan hal yang paling aku senangi, tapi setidaknya dia punya arti khusus dan ruang khusus bagiku. “Sederhana, tapi mengena”. Kalimat itu juga cukup menyita perhatianku. Sederhana, tapi ia memiliki pesona dan daya tarik tersendiri, sehingga begitu kau menyadari kehadirannya, ada sesuatu yang tertinggal dalam dirimu. Ya, kesan akan hadirnya.

Aku sering memperhatikan sekelilingku. Walaupun tak selalu, tapi itulah kebiasaanku. Aku senang menikmati pemandangan sekitarku. Apalagi kalau aku sedang sendiri, atau setidaknya aku sedang diam. Mata ini menyapu pemandangan dunia fana di sekitarku. Mencari sesuatu yang menarik perhatianku. Ya, seperti pengamat saja, atau malah seperti menonton film, tapi ini nyata.

Ya, seringkali aku berpikir. Sederhana, aku menyukainya, tapi mengapa aku sendiri terkadang justru ribet dan tidak praktis. Ahaa! Praktis. Kata itu. Mmm, sepertinya mirip dengan sederhana, tapi berbeda. Mereka mempunyai makna sendiri-sendiri. Mereka berlainan. Sederhana dan praktis. Terkadang, menjadi sederhana tidaklah praktis. Butuh kesenangan ataupun kemauan untuk mau menjadi sederhana. Tidak begitu saja. Karena biasanya, tidak banyak orang berlaku demikian–sederhana.

Ya, sederhana. Entah mengapa aku menyukainya. Sering kau menampakkan dirimu dalam diri orang-orang yang kutemui meskipun aku tidak mengenal mereka. Dalam sekejap, aku bisa tertarik karena kesederhanaan yang ada dalam diri mereka. Sederhana dalam kacamataku. Kesederhanaan yang menampakkan keindahan. Mmm, mungkin lebih tepat menampakkan kenyamanan bagi orang yang memandang. Sederhana, itu yang kusuka darimu dan dari orang-orang yang kutemui.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s