“Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…” Alhamdulillah :)

Put rumput rumput... ooh, rumput! :D

Put rumput rumput... ooh, rumput! 😀

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Wussh..wussh..
Huemm, semilir..sejuk..enak..wussh..asyiiik, yeay! Alhamdulillah..

Yak, sekarang dunia baru sudah beberapa langkah dimasuki. Ya, masih awal memang. Awal yang… yaa..mm..belum menyesuaikan sepenuhnya. Yap, masih awal, Kawan. Beberapa jalan setapak sudah terlewati. Jejak-jejak pun sudah ada yang tertinggal.

Oke, masih awal. Jalani dulu, belajar ikhlas lagi. Sabar, sabar, dan sabar. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Tidak selamanya hidup itu indah, menyenangkan, dan mulus. Tidak selamanya pula hidup itu suram, menyedihkan, dan berliku. Semua itu saling melengkapi. Sadarlah, Kawan. Seperti dua sisi mata uang. Saling oposisi. Tidak bisa mereka muncul berbarengan. Ada kalanya sedih dulu baru senang. Ada kalanya baru merasakan senang sebentar, eh ada yang bikin sedih.

Heiii, bangunlah, Kawan! Lihat dunia, buka matamu lebar-lebar. Bukankah dunia itu luas. Heiii, banyak orang di sekitarmu, banyak teman-teman seperjuanganmu. Kau tak pernah sendiri, Kawan. Kalaupun kau sendiri, masih ada yang selalu di sampingmu, menyayangimu, menjagamu, dan mengiringi setiap jejak langkahmu. Ada Allah, rabb semesta alam. Kenalilah Dia jauh lebih dalam. Dekatilah Dia, maka kau akan dipeluk-Nya. Insyaallah.

Kau tahu kan, bahwa tidak putus asa seseorang melainkan dia kafir. Na’udzubilla ahimindzaliik. Makanya, bergerak ke depan. Maju, maju, dan maju. Karena ‘maju’ telah kau pilih, maka kau tetap harus MAJU! Ya, aku tahu. Kau orang yang kuat, tegar, dan sabar. Kau orang yang ikhlas juga kan?

Aku percaya padamu, maka kau pun harus percaya padaku. Baiklah, aku takkan memaksamu, tapi aku yakin, sebentar lagi kau akan mempercayaiku.

Ingatlah ketika kau bersepeda dan di depanmu jalan masih datar dan kau menyadari ada turunan setelah itu. Ah, senangnya. Eits, tunggu dulu. Ini pertanda, Kawan! Iya kan? Sebentar lagi kau akan diuji dengan kemudahan dan kau pun tahu setelah itu ada jalan tanjakan yang harus kau lewati. Aku tahu kau tak berhenti di turunan itu. Aku tahu kau akan melanjutkan perjalananmu. Kau menyenanginya bukan? Kau yang memilih jalan itu karena kau senang dengannya. Kau pun tahu apa-apa saja yang akan kau lalui.

Jalan turunan pun kau lewati dan kau meluncur dengan girangnya. Ya, menyenangkan, tapi kau masih menyadari bahwa di depanmu tanjakan sudah menanti. Kau tahu karena kau pernah mengalaminya. Meski yang kau rasakan akan berbeda, tapi kau tahu sebenarnya itu sama.

Ya, dengan sisa-sisa gaya dorong dan semangat atas meluncurnya dirimu, kau berupaya menaiki tanjakan itu. Kau pun tahu tak cukup hanya mengandalkan sisa-sisa itu. Karena sisa ya tetap sisa. Sisa itu tak seberapa. Kau pun lalu menambah energimu, upayamu. Kau mengayuh dan terus mengayuh. Berat memang, tapi ini belum seberapa. Kau belum sampai jalan yang mendatar. Kau belum stabil. Kau harus terus mengayuh sampai kau mencapai kestabilan. Kau selamat!

Lagi-lagi, keyakinan akan kebahagiaan di depan mata yang menanti membuatmu melupakan rasa pesimismu. Keyakinan bahwa kau bisa melaluinya dengan usaha yang terus-menerus. Kau bisa bukan? Ya, kau bisa.

Heiii, bukankah aku belum sampai tujuanku? Aku belum sampai puncak! Aku masih berada cukup jauh dari puncak itu. Mmm, puluhan meter ini sepertinya akan mulus dan biasa-biasa saja. Akan tetapi, menjelang puncak tanjakan itu menanti. Apalagi, sisa-sisaku kini lebih minim. Tidak ada lagi gaya dorong seperti sebelumnya karena yang aku temui kini jalan yang datar walau berbelok.

Ya, atas sisa-sisa yang minim itu, dengan keyakinan pula aku harus bisa. Kukayuh lagi sepedaku. Aku mengambil ancang-ancang, tapi sudah tepat belum ancang-ancangku ini? Ah, tak masalah! Yang penting aku harus terus mengayuh. Terus dan terus mengayuh sampai puncak. Meski aku harus sedikit berdiri. Meski badanku kini terasa lebih remuk. Meski jantungku terpacu jauh lebih kencang. Aku harus tetap mengayuh. Terus, terus, dan terus kukayuh sampai puncak.

Ya. Alhamdulillah. Sampai juga di tempat tujuan. Masih bersisa keringat yang mengucur deras. Jantungku pun masih memompa keras. Napasku memburu. Badanku lebih lelah.

Baiklah, aku akan beristirahat sebentar memulihkan tenagaku. Aku akan berbaring melepas semua lelah ini. Agar lelah lenyap bersama penat yang kurasakan. Setelah tenagaku pulih dan ragaku segar kembali, aku akan bangun dan bersiap. Tidak. Aku harus membereskan apa-apa yang belum beres sebelum hari esok tiba.

Oke. Kubereskan semuanya, kutata rapi. Bismillah. Aku mulai bersiap, membangun jiwa dan ragaku kembali. Kusiapkan diri untuk esok hari. Semoga mentari berkenan menyambutku dan menyapaku dengan senyum terindah dan sapaan terhangatnya. Aamiin.

Dengan segala syukur dan keindahan hari ini. Dengan kepuasan dan kelegaan hati yang kuterima hari ini. Semoga keikhlasan dan kesabaran tetap di hati. Semoga syukur senantiasa terucap dan teramalkan setiap waktu. Atas izin-Nya, aku mencoba bersama diriku menyiapkan jiwa dan ragaku untuk mengukir sejarah baru, membuka halaman baru dalam diary kehidupanku dan menulisnya dengan tinta-tinta milik-Nya untuk senantiasa mengingatkanku untuk bersyukur, sabar, dan ikhlas. Semoga Allah rida. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Laa haula wa laa quwwata ilaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.. 
🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s