Misteri Impian: Perjalanan Panjang Cita-Citaku

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sebelum melepaskan balon impian (Kersos Fasilkom di YaBim)Sebuah artikel di web IndonesiaMengajar mengingatkanku akan cita-citaku dulu. Suatu hal yang kurasa spesial. Ya, spesial karena itu adalah sebuah mimpi yang kami bayangkan bagaimana dan akan seperti apa aku di masa yang akan datang. Sungguh, tidak ada satu pun yang tahu kecuali Dia Yang Mahatahu.

Kuingat dulu setiap ada yang menanyakan apa cita-citaku. Awalnya aku malu, tetapi lama kelamaan rasa itu pun pudar. Sungguh, hati ini memang mudah terbolak-balik. Bukan tidak konsisten ataupun plin plan. Aku tahu dan yakin bahwa itu terjadi karena adanya perluasan ilmu dan wawasan.

Ya, cita-citaku kini tidak hanya satu dan itu pun berubah seiring dengan perubahan zaman dan pergantian waktu. Dulu saat berada di bangku sekolah dasar, aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru SD. Teman-temanku bervariasi cita-citanya. Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, juga ada yang ingin menjadi guru pula. Aku sempat malu mengatakan itu saat ditanya, tapi itu tidak berlangsung lama. Alasan mengapa aku memiliki cita-cita itu adalah salah satunya karena kedua orang tuaku adalah guru SD. Itulah alasan umumnya jika ditanya mengapa. Alasan khusus? Nanti kubahas.
Lanjutnya. Saat aku duduk di bangku SMP, cita-citaku mulai berubah. Ah, tidak. Mungkin lebih tepat dibilang berkembang. Ya, cita-citaku saat itu masih ingin menjadi guru, tapi bukan guru SD. Saat itu, menjadi seorang guru SMP adalah cita-citaku. Apa alasannya? Sampai sekarang, aku pun masih meyakininya sebagai alasan umum. Alasannya adalah karena aku ingin seperti guru SMP-ku, guru yang membimbing dan mengantarkan murid-muridnya (termasuk aku) mengikuti lomba. Tepatnya pembina kami yang menjadi kandidat peserta olimpiade sains. Ya, saat itu aku senang sekali mengikuti setiap pembinaan di sekolah meski lelah karena harus pulang sore. Walaupun akhirnya hanya sampai sebagai peserta olimpiade sains tingkat provinsi itu tak mengapa karena pengalamanlah yang sesungguhnya berharga. Benar, saat itu aku memang kecewa, tapi pelajaran berharga sudah kudapatkan. Karena aku yakin selalu: “ada udang di balik batu”.
Satu pengalaman yang mungkin tak akan pernah kulupakan adalah saat di mana aku mendapat kesempatan mengikuti pembinaan calon peserta olimpiade sains yang diselenggarakan oleh salah satu universitas terbaik di Indonesia: UGM. Pembinaan itu tidak sebentar, sekitar empat minggu lebih yang dibagi menjadi 4 tahap (satu tahap sekitar satu minggu) plus supervisi tiap dua minggu sekali di antara pembinaan satu dengan lainnya. Aku pun sempat kewalahan karena lumayan tertinggal materi di sekolah. Prestasiku sempat turun memang, tapi pengalamanku terlalu manis untuk membuatku kecewa akan penurunan itu. Sungguh, hanya rasa syukur yang senantiasa ingin terucap dan teramalkan setiap waktu. Momen indah ini memang sebuah sarana yang tepat untuk kembali mengembalikan energi positif dalam diri.

Aku senang dan ingin seperti guruku karena memang aku puas dan merasa senang atas apa yang mereka berikan padaku. Aku ingin seperti mereka, membina dan mendidik para calon juara—calon peserta olimpiade. Bagaimana jika tidak juara? Tidak masalah, karena yang terpenting mereka telah terpicu dan merasakan apa itu kompetisi—karena mereka adalah aset bangsa. Calon ilmuwan Indonesia, calon pemimpin-pemimpin bangsa. Ya, cita-citaku saat itu: mendidik dan membina anak-anak cerdas dan potensial.

Lagi-lagi, cita-cita itu berubah saat aku beranjak menjadi murid SMA, tapi kali ini bukan guru. Justru aku tidak ingin menjadi guru SMA. Saat itu, jika aku disuruh memilih antara guru SMA atau SMP, mungkin aku akan lebih memilih menjadi guru SMP. Kenapa? Karena kurasa lebih menyenangkan.

Cita-citaku selama berada di bangku SMA tidak serta merta muncul satu hal yang jelas aku inginkan seperti saat SD dan SMP. Cukup lama aku mendapatkan cita-citaku yang baru. Awalnya, menjadi guru memang masih menjadi keinginanku. Akan tetapi, kemudian keinginan itu berkembang menjadi seorang dosen. Banyak pilihan saat itu. Sempat pula aku ingin menjadi dokter. Menyembuhkan orang yang sakit, terutama orang-orang yang kusayangi. Itu pun muncul sesaat karena ibu sahabat terbaikku sempat mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Ya, sesaat karena setelah itu aku tak lagi menginginkannya. Aneh rasanya aku pernah berpikiran ingin menjadi dokter, padahal sebelumnya aku dan sahabatku itu tidak ingin menjadi dokter karena ‘dengar-dengar’ saat kuliah dokter bakal disuruh membedah mayat. Lucunya lagi, justru sekarang sahabatku itu yang akhirnya memilih jalan menjadi dokter. Semoga sukses dan berkah ya mbaknyoo :D.
Saat inilah banyak macam pilihan yang tersuguh di hadapanku. Mulai dari dosen, arsitek (padahal tulisan tangannya saja tidak rapi :p ), desainer grafis, sampai programmer ataupun orang yang berkecimpung di dunia IT. Semua itu ada alasannya masing-masing. Umumnya semua berawal dari kesenangan akan suatu hal. Contohnya saja aku sempat berminat menjadi seorang arsitek karena mata pelajaran Kerajinan dan Keterampilan yang saat itu tugas-tugasnya menggambar bentuk-bentuk dan desain bangunan tiga dimensi. Tampak depan, tampak belakang, tampak atas, tampak bawah, dan tampak samping (ini untuk bentuk tiga dimensi, bukan bangunan lho 😛 kalau bangunan mah susah 😀 ). Sampai saat aku pun memutuskan untuk memilih jalan-jalan orang yang berkecimpung di dunia IT. Ya, sekarang aku sedang menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Masih mengulas soal cita-cita. Ya, itulah sedikit gambaran perjalanan (perubahan lebih tepat kali ya 😀 ) cita-citaku. Di atas aku sudah berjanji akan membahas alasan khusus aku memilih cita-citaku itu. Ya, inilah alasan khususnya. Aku baru sadar setelah aku membaca sebuah artikel di web IndonesiaMengajar yang berjudul “Kelas Mimpi, Berani Bercita-cita itu HARUS!”. Ternyata perjalanan berubahnya cita-citaku itu tidak terlepas dari wawasan yang kuperoleh saat itu. Saat aku masih SD, wawasanku masih sempit sebatas kehidupanku sehari-hari di sekolah dan lingkungan rumah. Karena yang kukenal hanya sekolah yang di dalamnya ada guru, murid, dan penjaga sekolah dan lingkungan rumah di mana orang tuaku sendiri adalah guru SD, maka pikiranku pun terbentuk dan keinginan itu pun tercipta: menjadi seorang guru SD.
Tidak beda jauh dengan saat aku SMP, kasusnya mirip. Pembedanya hanya luasan atau jangkauan wawasanku saat itu. Saat aku SMP, wawasanku mulai sedikit terbuka ditambah dengan pengalamanku mengikuti pembinaan. Walaupun lagi-lagi aku ingin menjadi seorang guru meskipun bukan guru SD lagi, tetapi guru SMP. Saat SMA, wawasanku bertambah dan hal itu yang menghadapkanku pada banyak pilihan untuk cita-citaku. Aku senang ini, aku ingin ini. Senang itu, ingin itu. Dan seterusnya. Walaupun akhirnya gerbang pembuka sudah terpilih, tidak menutup kemungkinan cita-cita itu kembali berkembang atau berubah.

Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kita nanti, bahkan satu, dua, atau tiga detik setelah ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah bergerak dan berjalan mendekati apa yang saat ini kita inginkan. Berusaha yang terbaik dengan mengharap keridaan-Nya. Fokus pada keinginan kita, jika perlu, kita kuatkan fondasi keinginan itu. Kuatkan pula niat, ungrade selalu niat kita. Mantapkan hati, bulatkan tekad untuk satu tujuan pasti: SUKSES! Semangat!

Yang terakhir, untuk hasilnya, serahkan semua pada-Nya. Apapun itu Insyaallah itu yang terbaik untuk kita. Kita hanya perlu ikhlas dan lapang hati. Insyaallah jika kita ikhlas, semuanya akan berjalan baik dan lancar. Semuanya kita kembalikan lagi pada Dzat Yang Mahatinggi. Semoga segala dosa dan kesalahan kita, Allah berkenan mengampuninya. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik dan rida akan apa yang kita kerjakan. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal ‘aalamiin.
Pelepasan Balon Impian

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s