Tiada yang Abadi di Dunia Ini: Kesedihan dan Kebahagiaan yang Tak Terpisahkan

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Di dunia ini memang tak ada yang abadi, tak terkecuali kesedihan dan kebahagiaan. Seperti halnya dua sisi mata uang (koin), keduanya tak terpisahkan dan saling melengkapi. Sisi yang satu menunjukkan nominalnya dan sisi lainnya menunjukkan lambang negara dan tahun koin dibuat. Keduanya saling melengkapi, lambang tanpa nominal tak ada artinya. Tanpa nominal kita tak kan tahu barang apa yang bisa ditukar dengan koin itu, berapa nilai koin itu kita tak tahu. Di sisi lain, tanpa lambang dan tahun dibuat, kita tak tahu di mana koin itu berlaku dan apakah koin itu sudah lama atau masih baru. Kita tak kan tahu apakah koin itu masih berlaku atau tidak karena kita tidak tahu pembuatnya. Intinya sih, keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi, begitu pula kesedihan dan kebahagiaan.

Tanpa kesedihan, kita tak tahu apa arti kebahagiaan. Jika kita tak pernah bersedih, hidup kita hambar, tawar tak berasa. Kesedihan dan kebahagiaan itulah yang memberikan rasa dan warna dalam hidup kita. Keduanya sama-sama berperan dalam membentuk diri kita sekarang ini. Pengalaman mengajarkan kita banyak hal. Sebagaimana pepatah mengatakan: “pengalaman adalah guru terbaik” dan “pengalaman mahal harganya”. Siapa yang tak setuju dengan pepatah tersebut? Silakan Kawan resapi lagi dan mungkin Kawan memiliki pandangan sendiri. Kalau saya sih sependapat dengan kedua pepatah tersebut. Sekali lagi, pengalaman mengajarkan kita banyak hal. Entah pengalaman baik, entah buruk.

Bicara mengenai pengalaman. Pastinya selama kita hidup di dunia ini sudah banyak sekali pengalaman yang silih berganti, datang dan pergi bukan? Pasti ada yang pahit, manis, asam, atau mungkin hambar. Ya, semua itu yang membentuk diri kita sekarang ini, tapi tergantung bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmahnya. Banyak orang mungkin memiliki pengalaman yang sama, tapi tidak menutup kemungkinan mereka bisa memiliki pandangan yang sama. Kembali lagi pada jalan pikir kita. Akan tetapi, pada dasarnya setiap orang pasti memiliki minimal satu pengalaman yang berbeda. Adakah dua atau lebih orang yang memiliki pengalaman yang sama persis? Saya rasa tidak. Kalau ada, mohon dikoreksi tulisan saya.

Ah, yang saya maksud pengalaman di sini bukan hanya pengalaman fisik yang terlihat atau berupa kejadian nyata, melainkan juga pengalaman batin. Tentu kita tidak hanya belajar dari apa yang kita lihat dan alami, tetapi juga apa yang kita rasakan. Bagaimana, Kawan? Ada yang kurang setuju? Silakan berbagi pengalaman Anda.:)

Oh iya, masih menyinggung kesedihan dan kebahagiaan. Dua sisi yang berbeda, bahkan berlawanan (oposisi), tapi tidak bisa dipisahkan. Dua hal yang keduanya sama-sama tidak abadi, sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Keduanya yang mengisi hari-hari kita. Bersyukurlah kita yang sedang berbahagia dan bersabarlah kita yang sedang dalam kesusahan. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” dan “Allah akan melipatkan rezeki bagi mereka yang mau bersyukur”. InsyaAllah.

Mmm, saya sampai sekarang masih memegang suatu prinsip hidup yang berkaitan dengan hal-hal yang saya utarakan di atas. Kesedihan dan kebahagiaan datang berdampingan dan silih berganti. Tergantung kita ingin mendahulukan merasa yang mana dulu. Prinsip saya, jika saya sedang sedih ataupun susah, saya percaya setelah itu saya akan merasa bahagia atau minimal ada hal yang membuat saya senang dan atau bahagia. Satu hal yang masih saja tertanam dalam keyakinan saya: jika saya tertawa berlebihan tanpa sebab yang jelas dan saat itu juga saya merasa ada hal yang aneh, pikiran saya langsung sekejap berubah dan perasaan saya mengatakan bahwa tidak lama setelah ini akan ada hal yang membuat saya sedih, kesal, atau menangis. Pikiran semacam itu sudah cukup lama tertanam di otak saya. Sekali perasaan saya tidak enak dan belum bisa memulihkan kembali menjadi baik, saat itu juga hal itu menjadi nyata. Akan tetapi, jika saya sudah merasa janggal dengan perasaan saya dan sekali itu juga saya secepat kilat menghapus pikiran dan perasaan tidak enak itu dan mengubah serta mengisinya dengan pikiran-pikiran yang positif tanpa sedikitpun pikiran negatif kembali menguasai saya, saat itu pula saya berhasil membaikkan keadaan saya. Ya, itu semua (sampai sekarang saya masih meyakininya) adalah kekuatan sebuah sugesti, sugesti diri saya rasa tepat untuk menggambarkannya. Sugesti, ya, saya rasa itu jawabannya.

Bicara mengenai prinsip diri ini, semua berawal..ketika negara api menyerang.. Enggak lah ya πŸ˜€ Kok malah jadi kayak filmnya FUKI yang avatar, hehe. Lanjut! πŸ™‚ Semua–tentang prinsip ini–berawal ketika saya kelas tiga SMP, tepatnya saat hari pengumuman kelulusan yang waktu itu sempat mundur sehari. Sampai saat ini, saya rasa kejadian inilah yang merupakan puncak kejadian yang mengawali semua kejadian yang membentuk prinsip ini. Seingat saya, waktu itu sekitar pukul sepuluh pagi saya masih di rumah sementara pengumuman kelulusan itu pukul sebelas siang. Masih jam sepuluh? Iya, waktu itu. Akan tetapi, detik demi detik, menit demi menit pun berlalu. Saya sudah bilang sama Bapak untuk berangkat bersama ke sekolah saya untuk mengambil pengumuman kelulusan. Sementara waktu itu, Bapak masih mengajar.

Jam sepuluh, saya masih menunggu. Sampai saya merasa sepertinya Bapak masih lama dan saya pun memutuskan untuk naik angkot. Tapi angkot lama, ya itu masalah lagi. Selain mengetem cukup lama, kalau angkotnya tidak juga lewat, maka saya pasti terlambat. Tapi ya sudahlah, daripada nunggu lama, mungkin naik angkot akan lebih cepat sampai. Tapi kenyataannya? Menit demi menit kembali berlalu, sudah belasan menit berlalu, cukup lama saya menunggu angkot di pinggir jalan, masih saja belum ada angkot yang lewat ke arah yang saya tuju. Astaghfirullah. Bapak juga belum pulang. Kebetulan waktu itu hari sekolah, jadi Bapak harus ngajar dulu. Hmm, saya pun mulai kesal dan bingung. Sudah pasti saya akan datang terlambat. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu, ‘masa saya terlambat saat pengumuman kelulusan? itu tidak menyenangkan’. Saya kembali gelisah menunggu angkot dan Bapak. Hmm, sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi sudah jam sebelas. Saya pun pasrah sambil menahan rasa yang tidak karuan saat itu. Mau nangis rasanya 😦 Air mata pun sudah mendesak minta keluar.

Beberapa menit setelah itu, Bapak pun pulang. Akhirnya kami berangkat bersama ke sekolah saya. Di perjalanan saya menitikkan air mata, perasaan saya kacau. Bisa dimaklumi kali ya, anak kecil. πŸ˜€ Sepanjang jalan, pikiran saya tidak karuan, berbagai macam gambaran perkiraan apa yang akan terjadi pun silih berganti melintas. Saya masih menangis, tapi tak bersuara. Sampai saya hampir sampai di sekolah, saya pun segera menghapus air mata saya dan mengatur muka saya. Tapi tetap saja, saya rasa waktu itu wajah saya aneh, mungkin cemberut.

Benar, saya terlambat. Saya sampai di sekolah dan acaranya sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Hmm, untung momen yang penting belum terlewat. Saya pun menunggu dan pikiran saya masih sedikit kacau waktu itu.

Tahukah Kawan apa yang saya pikirkan sepanjang jalan? Waktu itu saya berpikir dan sempat berdo’a sepanjang jalan sambil menangis. Kira-kira begini: ini kalau telat gimana? tapi pasti telat, tapi gimana kalau udah diumumin juaranya (#sedikit komen: sepertinya saat itu saya cukup GeeR :D). Masa pas diumumin belum datang, masa datangnya telat? Tapi emang aku pasti dapat juara? Tapi aku pengen dapet, pengen naik ke panggung. Ya Allah, semoga aku bisa mendapat hasil yang baik. Bisa dapet juara dan naik ke panggung. Setidaknya izinkan aku membanggakan orang tuaku dengan naiknya aku ke panggung sebagai juara. Semoga perasaan dan kejadian yang aku alami sekarang akan membuahkan hasil yang indah. Semoga Engkau mengubah kesedihan ini menjadi kebahagiaan saat aku sampai di sekolah nanti. Semoga aku bisa mendapat juara dan naik ke panggung. Berikan yang terbaik, ya Allah. Aamiin.

Hmm, begitulah kira-kira. Dan benar ternyata, kesedihan itu terbalaskan. Terbayarkan dengan sebuah hadiah yang indah dari Allah. Sangat indah. Alhamdulillah. Walaupun bukan penyandang peringkat pertama di sekolah (karena saya tahu dan saya rasa ada yang lebih baik dan lebih layak di posisi itu dan biasanya memang selalu dia yang di posisi itu, sahabatku Lia :D), saya sangat bahagia dan senang tentunya bisa naik panggung. Naik tiga kali, Kawan :). Bukan maksud saya sombong (Semoga bukan termasuk sombong dan semoga Allah mengampuni saya apabila ini termasuk sombong ataupun pamer. Aamiin. Lagian ada yang di atas saya, lebih baik dari saya, tapi saya tetap bersyukur. Alhamdulillah.:) ), saya naik ke panggung karena: pertama, saya mendapatkan angka sepuluh bulat di UN Matematika; kedua, NEM saya waktu itu tertinggi kedua setelah sahabat saya; yang terakhir, saya juara ketiga paralel (juara ketiga di SMP saya). Subhanallah, Alhamdulillah, Allaahu Akbar. Sangat cukup, sangat cukup sekali membalas kesedihan dan kekecewaan saya yang sepele itu. Ya Allah, hanya syukur yang saya rasakan waktu itu selain bahagia bisa membuat bangga orang tua saya. Saya yakin, karena saya sendiri merasa ‘wahh’. Hadiah-Mu sangat indah. Semoga, ke depan saya terus bisa membanggakan orang tua saya. Aamiin. Seakan tidak percaya, di panggung hanya senyum kepuasan dan kebahagiaan yang saya rasakan. Sambil sedikit terharu. Subhanallah, Maha Besar Allah. Sungguh indah rencana-Nya. πŸ™‚

Satu lagi hal yang sedikit menggelitik waktu itu, di tengah haru biru kebahagiaan dan kesyukuran. Ada seorang guru saya (guru yang biasa mengumumkan juara) berkata saat nama saya disebut dan saya naik panggung, kurang lebih begini: “Ini calon mantu idaman, Pak, Bu..” Candaan yang sungguh menggelitik, saya hanya bisa tersenyum. Malu tentunya, tapi itu tertutupi oleh kebahagiaan yang saya rasakan dan diam-diam menambah sedikit kebahagiaan saat itu dan dalam hati saya aamiin’i saja, hehe :D. Lucu sekali, baru lulus SMP juga, Ibu yang ini memang betul-betul ya..:) Tapi beliau adalah salah satu guru favorit saya di SMP, guru Bahasa Indonesia saya saat kelas tiga. Sebelumnya, setahun yang lalu, salah seorang kakak kelas saya juga menyandang predikat tersebut dari Ibu yang satu itu pula. Dan entah kebetulan (memang sudah rencana-Nya kali ya) yang saya rasa aneh dan lucu juga, kakak kelas yang menyandang predikat tersebut juga ada di posisi juara ketiga paralel. Subhanallah. Saya cukup merasa heran dan kagum dengan kebetulan (rencana-Nya) ini.

Tidak ada kata yang pantas dan bisa mewakili perasaan saya yang tak terungkapkan semuanya dan tumpah ruah. Hanya syukur dan syukur yang mungkin pantas saya ucapkan. Sungguh, tak terbatas sekali. Subhanallah.

Meski sebenarnya mungkin sepele, tapi entah mengapa perasaan saya waktu itu sungguh luar biasa. Dari pengalaman itulah awal berbagai pengalaman lain yang serupa dan itulah yang membentuk prinsip saya ini. Sungguh benar firman-Nya dalam surat Al Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Dari sekian banyak pengalaman dan kejadian fisik dan batin, sampai sekarang saya masih memegang prinsip ini. Dari situ pula terbentuk pikiran saya untuk tidak lama-lama larut dalam kebahagiaan dan kesenangan sesaat, cukup syukur, syukur, dan syukur yang harus diucapkan dan diamalkan. Dari situ pula saya berusaha selalu berpikiran positif bahwa jika sekarang saya merasa sedih dan susah, maka sebentar lagi akan ada hadiah dari-Nya. Akan ada rencana-Nya yang luar biasa dan tak terduga yang pasti akan indah pada waktunya.


Dari hidup saya selama ini, saya berharap semoga Dia yang Mahakuasa berkenan membaikkan saya di akhir. Memberikan tempat yang indah di alam-Nya yang kekal. Semoga Dia berkenan mengumpulkan saya dan orang-orang terkasih di surga-Nya. Bertemu dengan-Nya dan rasul-Nya. Semoga Dia senantiasa mengingatkan saya, orang-orang terkasih, dan saudara seiman untuk selalu mengingat-Nya, mengharap surga-Nya, dan tentunya menggerakkan hati dan badan untuk hijrah dan jihad di jalan-Nya. Semoga Allah berkenan mengabulkan do’a saya, doa kita muslimin wal muslimah. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

Jazakallaahu khairan katsiran.
πŸ™‚

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s