Seven Hour Trip

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga main ke asrama mbaknyo Ika, sobatku 🙂
Berhubung UAS udah selesai dan masih stay di Depok, daripada nganggur ga jelas mending main deh. Itung-itung silaturahmi, ya kan? Mumpung ada kesempatan manfaatin deh. Setelah memastikan mbaknyo di asrama hari ini dan ada waktu senggang, langsung deh nyari temen buat ke sana.

Dan hari ini pun jadi ‘first time trip with KRL’…
Pengalaman pertama naik KRL, Kawan 😀
Dan tahukah kau bagaimana rasanya? Alhamdulillah, nikmat dan menyenangkan. Hehe..

Kurang lebih setengah jam kami di kereta dari stasiun UI sampai stasiun Duren Kalibata. Eh ya, aku belum menyebutkan nama orang yang menemaniku. Namanya Tyas, (saya biasa memanggilnya mbak Tyas) kebetulan dia juga sudah merampungkan UAS.nya, sama sepertiku. Kami memang tidak tahu pasti di mana stasiun Duren itu dan ini merupakan pengalaman pertama kami keluar depok dengan KRL menuju Jakarta. Awalnya, kami sempat bingung bagaimana mengenali nama stasiun yang kami lewati sedangkan sudah dua stasiun yang terlewati dan kami tidak tahu namanya. Kami tidak melihat papan nama stasiunnya. Sebentar kemudian aku menyadari, ternyata di atas pintu kereta ada rutenya. Alhamdulillah, InsyaAllah tidak nyasar, hehe.

Dan benar, kami tidak nyasar dan kami pun turun di stasiun Duren Kalibata. Kami pun mampir sebentar untuk membeli makanan kecil. Setelah itu, barulah kami meneruskan perjalanan kami ke Wisma Rini, asrama Universitas Indonesia yang ada di Jakarta. Perjalanan menuju Wisma Rini cukup lama juga, menurutku.

Sekitar lima belas atau dua puluh menit kemudian, kami pun sampai di gerbang Wisma Rini. Kami pun masuk ke dalam. Kami sempat terkejut dan tidak menyangka bahwa benar itu asramanya. Tapi ternyata memang benar. Bangunan yang terlihat tua itu memang Wisma Rini, asrama UI tempat sahabatku tinggal.

Kami–saya dan mbak Tyas–pun sepakat mennyebutnya ‘museum berlian’. Mengapa? Karena walaupun bangunannya terlihat tua–memang tua, setidaknya lebih tua dari asrama UI yang di Depok tentunya)–dan antik menurut saya, di dalamnya terdapat berlian-berlian berharga. Manusia-manusia pilihan yang tentunya tidak diragukan lagi kemampuannya. Merekalah calon-calon dokter masa depan. InsyaAllah. Aamiin.

Beberapa saat setelah melihat sekeliling sebentar, kami pun memutuskan untuk masuk. Di sana tidak ada tempat untuk tamu dan sekali pintu dibuka, di depannya nampak lorong yang kanan kirinya adalah kamar. Jadi, sekali buka pintu dan masuk, langsung ketemu kamar-kamar, tangga, dan kamar mandi juga di dekat pintu. Itulah mengapa di depan pintu masuk (di luar asrama) persis terpampang tulisan ‘laki-laki dilarang masuk kecuali petugas’. Sebentar kami menyadari, setidaknya kami merasa lebih beruntung dan bersyukur tinggal di asrama UI yangberada di Depok.

Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Sobatku itu pun datang. Waahh, langsung deh 🙂

Kami pun segera naik ke atas–ke lantai tiga. Di sanalah letak kamar sobatku ini.
Sesampainya di kamar, kami pun melampiaskan semua rasa rindu kami dengan mengobrol tentang berbagai hal. Mulai dari saling tanya kabar diri, gimana kuliahnya, gimana UAS-nya, dan banyak hal lainnya. Waah, rasanya senang sekali setelah lama tak bersua dengan sobat karibku ini :). Alhamdulillah, semua rasa cukup tercurahkan hari itu.

Tak terasa waktu pun berlalu sampai adzan Dzuhur berkumandang. Waktu itu mbaknyo bilang kurang lebih begini, “Di sini kalo adzan Dzuhur biasanya bareng sama lonceng gereja.” Saya baru ngeh dan sadar benar adanya, adzan Dzuhurnya memang dibarengi bunyi lonceng gereja dekat Wisma Rini. Tanpa maksud berpikir macam-macam dan untuk menghindari pikiran yang macam-macam, mbaknyo meneruskan, “Mungkin daripada susah-susah liat jam atau gimana, ya udah kalo adzan siang berarti udah jam dua belas. Mungkin gitu kali ya..
Selang kemudian, mbak Banin, senior dari Purworejo yang juga tetangga kamar mbaknyo membuka pintu dan mengajak kami sholat berjamaah. Kami pun segera wudlu dan sholat Dzuhur berjamaah. Selesai sholat, kami diajak menikmati hidangan makan siang di kantin Wisma Rini. Di sini, kantinnya ada di dalam, dari luar tidak kelihatan. Sebelum sampai kantin, kami harus melewati parkiran motor dulu. Kantinnya tidaklah luas dan hanya ada dua counter dan yang buka waktu itu cuma satu. Mejanya kalau tidak salah ada tiga. Di sebelah kantin ada ruangan yang cukup luas yang kalau tidak salah dinamakan ‘museum klinik’. Katanya dulu pernah dijadikan klinik untuk berobat warga sekitar. Mbak Banin spontan nyelutuk, “Mbuh ki, obate wis padha kadaluwarsa mbokan.” Ya iyalah, mbak. Orang dari kapan coba, wkwk :D. Tempat itu katanya sekarang malah dijadikan tempat ngumpulnya bapak-bapak ABRI tiap hari apa gitu, tapi kurang tahu untuk apa.

Tidak seperti di kebanyakan counter di kantin asrama Depok di mana kita mengambil sendiri makanan kita, di kantin Wisma Rini kita tinggal pesan mau makan apa (tentu sesuai makanan yang tersedia) dan nantinya akan diantar ke meja kita. Kami memesan soto ayam, nasi goreng, dan martabak mie serta es teh dan jus untuk minumannya. Cukup lama memang menunggu hidangannya diantar. Kami pun menunggu sambil meneruskan obrolan kami dan sharing sana sini. Hehee..

Selang beberapa waktu, hidangan pun diantar dan kami mulai santap siang. Setelah makan siang, kami pun kembali ke kamar mbaknyo. Mbak Banin tidak kembali ke kamar langsung, tapi pergi ke kamar temannya untuk belajar. Waw, subhanallah ya, anak FK memang ‘sesuatu’. 🙂

Setelah melepas lelah beberapa waktu, saya dan mbak Tyas pun pamit pulang. Tidak seperti waktu berangkat (dengan KRL ekonomi), kami pulang dengan commuter line. Dan di sini, saat itu, sekali lagi kami kenekatan kami diuji. Semula kami kira commuter line jurusan Depok ada sendiri, beda dengan jurusan Bogor. Satu, dua, sudah dua commuter line jurusan Bogor berlalu meninggalkan Stasiun Duren Kalibata. Kami mulai berpikir lagi dan nyelutuk, “Kok yang jurusan Depok belum ada ya? Padahal tadi si bapak (tukang karcis) bilang sekitar lima belas menit lagi. Ini mah udah setengah jam-an kali.” Lagi-lagi kami dibuat bingung. Akhirnya commuter jurusan Bogor untuk yang ketiga kalinya berlalu meninggalkan Stasiun Duren Kalibata. Kami pun segera mendatangi seseorang yang bertugas menjaga dan mengawasi rel untuk jalan melintas dan memastikan commuter line mana yang akan kami naiki. Kami juga bertanya pada seorang ibu yang sedang duduk menunggu kereta. Akhirnya kami mendapat kepastian bahwa comline (commuter line) jurusan Bogor itu yang harus kita naiki. Nah lho, kami pun tertawa sendiri dengan kekonyolan ini. Masyaallah, sudah setengah jam waktu terbuang hanya karena salah persepsi. Ya sudah, ini jadi pengalaman dan pelajaran untuk ke depannya. Daripada tidak tahu sama sekali, untung sekarang sudah tahu ya 😀 Alhamdulillah.. 🙂

Akhirnya, commuter line keempat jurusan Bogor-lah yang kami naiki untuk kembali ke Depok. Alhamdulillah. Perjalanan Duren Kalibata-UI memakan waktu kurang lebih setengah jam. Selama perjalanan kami lebih memilih berdiri, maklum masih baru naik KRL, masih semangat-semangatnya berdiri, hehehee.. :p
Eh ya, ada dua tempat yang ingin aku kunjungi selama kuliah di UI dan belum kesampaian: ITB dan IPB. The two places for the next trip. Insyaallah. 🙂

Stasiun Duren Kalibata, 8 Januari 2012

Advertisements

2 thoughts on “Seven Hour Trip

    • Iya 🙂
      waktu itu bapak-bapak yang tugas di pintu rel bilang kalau mau ke depok naik yang jurusan bogor, ibu yang waktu itu ditanyain bilangnya juga sama saja, kalau mau ke depok ya naik yang jurusan bogor..

      Salam kenal juga..
      Terima kasih sudah mampir 😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s