Mencari Makna-Bukan Sekadar Keren

3 Januari 2012

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya, saya kembali menulis. Yeah. Alhamdulillah.
Eh bentar, mau beli makanan dulu.
Yeah, saya sudah membeli makanan untuk mengganjal perut malam ini.
Malam ini mau sampai jam berapa ya?
Mmm, sampai jam duabelas insyaAllah bisa kok, hehe

Eh ya, kembali saya teringat suatu hal. Hal yang sudah berkali-kali melintas di pikiran saya.
Bagaimana jika saya mati muda? hmm, sepertinya keren, tapi? Memang apa yang sudah saya beri?
Apa yang sudah saya lakukan? Manfaat apa yang sudah saya hasilkan? Apakah sudah ada dari diri saya yang bermanfaat bagi orang lain. Jika iya, seberapa besar?
Ya Allah, tiket surga-Mu sunggul mahal dan tak ternilai harganya. Tentu walaupun hamba-Mu ini melakukan segala sesuatu demi mendapatkan tiket itu pastilah masih kalah jauh dibanding semua kebaikan dan keagungan kuasa-Mu. Sangat-sangat jauh dibanding semua kenikmatan yang telah Engkau berikan sampai sekarang. nikmat bernapas, nikmat melihat, nikmat mendengar, nikmat berjalan, nikmat sehat, bahkan nikmat menulis seperti sekarang dan masih banyak lainnya yang Engkau berikan dengan kasih sayang-Mu yang tulus dan tak ternilai.
Subhanallah. Sungguh Engkau Maha Baik lagi Bijak. Engkau tak pernah mendzalimi hamba-hamba-Mu sedikitpun. Engkau memberikan semua yang mereka butuhkan. Hanya saja, kami sering lalai pada-Mu. Hanya sekadar mengucap ‘Alhamdulillah’ saja kami masih sering lupa. Terlena akan nikmat yang Engkau beri. Astaghfirullahal ‘adziim. Jangan sampai kami menjadi hamba-Mu yang kufur nikmat dan durhaka. Na’udzubillahimindzaliik. Semoga kami selalu ingat kepada-Mu. Aamiin.
Kembali ke bahasan utama. Mati muda. hmm, masih keren kedengarannya ya? iya sih, saya rasa juga begitu. Tapi, mati muda seperti apa yang keren itu? Jangan tanya saya, saya juga tidak tahu. Yang jelas, dengan sisa umur yang kita tak tahu seberapa tentu kita ingin berbuat baik sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya kepada orang lain kan? Member manfaat yang sebanyak-banyaknya dan berbagi dengan hati yang setulus-tulusnya? Mau kan? Saya juga mau.
Tapi tunggu dulu, apa yang harus kita lakukan agar keinginan kita ini tercapai? Hmm, mari kita renungkan bersama. Kita coba menelaah, belajar bersama demi mendapatkan ilham yang semoga dapat kita terakan. Aamiin.
Mungkin ini bisa sedikit memberi gambaran atau minimal membuka celah menuju cahaya pemahaman mengenai apa yang sedang saya bahas (tapi mohon maaf kalau kurang pas). Mmm, baru saja saya membaca—baru sedikit tapi—buku dengan judul ‘Sukseskan Mudamu!’. Buku ini memberikan banyak contoh dan gambaran mengenai betapa bermanfaatnya orang sukses itu. Dengan kesuksesan yang memiliki berbagai macam artian membuat orang bisa berbagi kebahagiaan, membantu sesama, membangun sesama, dan tentunya memberikan banyak manfaat bagi sesama. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai buku ini karena saya pun baru membacanya sedikit sekali dan itupun kebetulan saya menemukan buku ini di kamar teman. Hehe…
Satu lagi yang kembali mengingatkan saya dan membuat saya agaknya sedikit rela jika saya mungkin tidak lama di dunia, tapi dengan syarat saya sudah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pada orang lain. Yah, beberapa bulan lalu, mungkin sekitar setengah tahun lalu—pada saat masa-masa penganggurang setelah lulus SMA—saya kebetulan sering googling dan mencari berbagai macam dan sebanyak-banyaknya informasi mengenai dunia pemrograman. Waktu itu kebetulan saya berniat mengikuti beasiswa tanoto dan akan membuat esai sebagai salah satu syaratnya. Untuk membuat esai itu, saya perlu sedikit tahu lebih tentang dunia pemrograman. Jadilah saya googling dan surfing di internet dan mencari-cari sumber yang bisa memuaskan keingintahuan saya saat itu. Saya pun menemukan sebuah situs internet—lebih tepatnya web—tentang dunia pemrograman milik seorang software engineer lulusan salah satu universitas di Jepang (saya lupa namanya). Beliau adalah Romi Satria Wahono. Dari salah satu artikelnya saya mendapat pelajaran penting. Beliau menyebutkan kurang lebih dia tidak muluk-muluk berharap memiliki umur yang panjang. Cukuplah bagi Beliau untuk memberikan manfaat atau ilmu sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Beliau juga cukup bersyukur bahwa beliau masih diberi kesempatan hidup sampai usia kepala tiga. Intinya, yang saya tangkap adalah Beliau rela jika harus meninggal dalam usia muda asalkan sudah memberikan banyak manfaat bagi sesama.
Ya, seperti itulah. Tapi tunggu dulu, bukannya saya senang begitu saja jika mati muda tapi tanpa meninggalkan apa-apa. Yang menjadi pembicaraan mati muda yang keren di sini itu adalah mereka yang dari muda sudah banyak memberikan manfaat banyak bagi sekitarnya. Sudah memiliki banyak bekal yang semoga cukup untuk mendapatkan tiket surga-Nya. Tertarik? Saya juga.
Mmm, sekali lagi saya perlu evaluasi diri lagi apakah saya pantas atau tidak. Jika saya tanya mengapa sampai saat ini saya masih hidup? sendirinya pun menjawab, karena itu yang terbaik dari Allah dan saya masih diberi kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Saya masih diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan demi menutupi semua kekurangan saya. Saya masih diberi kesempatan untuk memberatkan timbangan kebaikan saya. Jadi apa yang harus dilakukan? Berbuat baik sebanyak-banyaknya. Mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Belajar ikhlas, banyak-banyak bersyukur, berbagi apapun meski sekadar senyuman setulus-tulusnya untuk orang lain. Kapan mulainya? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Sudah belum ya? kalau belum, mulailah. Kalau sudah? Perbaikilah 🙂
Satu lagi, banyak-banyaklah berterima kasih dan berlatihlah untuk berani meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan. Kan kata lagunya Sherina, mereka yang berani mengakui kesalahan adalah ksatria. Siapa mau? Tentunya semua mau, kan? Saya juga mau lho 🙂
So, mulailah sekarang. ayo berbuat dan berbagi kebaikan bersama-sama. Latihan bersama. Mulai dari diri sendiri ya. saya juga harus begitu. Karena saya sudah berani menuliskannya, maka saya juga berani melakukannya. Ok, Girl? Are you ready? Be brave!
Yes, ok, insyaAllah.
Ridhailah kami, ya Rabb. Ya Allah, ya Rahman. Lancarkanlah, teguhkanlah, kuatkanlah. Tegakkanlah kebaikan dan kebenaran dalam diri kami. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Makna-Bukan Sekadar Keren

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s