Tentang Nama-Dwi, Dudu, Tuppie

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Wah, siapa mereka? Yang pertama sih biasa. Yang kedua seperti penggalan kata yang biasa untuk bernyanyi ‘dudududu’. Yang ketiga apa tuh? Tuppie apa tupai (oh, No!)

Ya, daripada bingung mau nulis apa. Sekarang saya mau nulis tentang nama panggilan saya, nama akrab saya oleh teman-teman saya dulu dan sekarang. Sebelumnya, bagi yang belum tahu nama panjang saya, perkenalkan nama saya Dwi Teguh Priyantini. Dalam bahasa Sansekerta dwi berarti dua dan benar saya anak kedua dari tiga bersaudara, perempuan semua pula (curcol :P). Anehnya, nama bilangan yang menunjukkan urutan kelahiran saya itu memakai bahasa Sansekerta, sedangkan kakak saya memakai bahasa arab (Wakhidah: ‘wakhid’ = satu, diakhiri –ah biasanya mennunjukkan perempuan). Satu lagi, nama adik saya tidak memakai nama bilangan sama sekali. Waduh, ckck. Tak apalah.

Nama adalah do’a orang tua, itulah pandangan atau persepsi masyarakat. Ya, bisa dibenarkan. Dulu, saat saya masih duduk di bangku sekolah, beberapa kali saya ditanyai arti nama saya. Awalnya yang saya tahu pastinya arti dari nama pertama dan kedua saya, yang terakhir saya kurang tahu. Hehe..

Kalau dulu sih, pas saya masih kecil, budhe saya pernah bilang sama saya dan Upi (sepupu saya) sehabis kami bermain. Mungkin hanya perkiraan beliau atau apalah saya tak tahu, saya hanya ingat waktu itu beliau bilang arti nama saya dan Upi orang yang prihatin. Karena nama lengkap Upi itu Kukuh Suprihatin, jadi bisa-bisa saja. Tapi saya? Dari mana kata prihatin itu? Ada juga Priyantini. Masa jadi orang yang priyatin atau priyantin? Saya jadi bingung sendiri tiap mengingatnya. Tak apalah, saya sendiri senang dengan nama itu meski entah artinya apa. Hehe 😀

Nama belakang itu adalah nama yang paling jarang atau mungkin tidak ada yang menyamai—entahlah. Hanya saja saya pernah menemukan orang yang memiliki nama hampir sama—tidak sama lho—dengan nama belakang saya itu. Waktu itu, saat masa-masa mencari tanda tangan senior, ternyata ada senior yang nama belakangnya Priyanto. Teman-teman dekat saya terkadang menjahili saya dengan menyelewengkan nama belakang saya jadi Priyantono. Ada lagi yang hampir dan nyaris sama, tapi entah siapa pemilik nama itu. Waktu itu tidak sengaja di fb saya menemukan ada orang dengan nama belakang Prihantini. Nah lho, padahal dulu nama belakang saya juga pernah dikira Prihantini. -_-

Alhamdulillah dikasih nama yang baik ya sama orang tua. Hehe..
Jadi inget waktu itu ada orang yang bilang nama saya bagus. Waahh, senang ya. Alhamdulillah.
Walaupun beberapa kali saya sering bermasalah dengan nama panjang saya ini, tapi saya tetap menyukainya.
Beberapa kali konflik terjadi karena masalah nama (edisi lebai). Sudah berapa kali saya dikira laki-laki, ya Allah. Ini mungkin yang membuat ibu saya berpesan pada saya agar kalau menulis nama itu yang lengkap dan jangan pernah menulis nama dengan menyingkatnya jadi Dwi Teguh P. karena akan terindikasi langsung itu laki-laki. Bahaya! Hehehe… Padahal sampai sekarang masih seperti itu (maaf ya, Bu masih ngeyel, tapi biasanya aku lupa atau terpaksa kok, hehe #indikasi alibi)

Tapi akhir-akhir masa sekolah saya malah senang-senang saja kalau saya dikira laki-laki. Hihiihii 😀
Lumayan bisa buat penyamaran. Enggak ding. Gimana mau nyamar kalau akhirnya juga ketahuan, hehe. Cukup rasakan sensasi dikira laki-laki. Ada rasa senang dan bangga gimana gitu #plakk. Sebenarnya ada teman dekat saya yang bernasib sama dengan saya atau bahkan lebih miris dan kami sama-sama menikmati ketidakberesan ini. Hehe..

Dan ada satu hal yang saya masih ingat betul dan mungkin tidak akan saya lupakan. Nama kedua saya itu-lah sumbernya. Saya ingat betul, dari SD sampai SMA selalu ada saja guru yang sering memanggil saya dengan nama Teguh. Kalau cuma didenger, pastilah langsung dikira laki-laki. Ya Allah. Sampai-sampai saat saya SMP, guru les saya memanggil saya dengan sebutan ‘Teguh cilik’ karena ada teman satu les-an juga teman satu sekolah saya yang namanya juga Teguh dan nama awalnya dari nama pertama dan kedua saya yang dibalik dan dia dipanggil ‘Teguh besar’. Inggih, Pak. Kula pancen alit. Tapi kan ya pripun ngaten. Waktu itu saya pun hanya bisa pasrah dan akhirnya nikmati saja. Saya geli setiap kali mengingatnya. 😀

Dan inilah yang berhubungan dengan judul tulisan saya kali ini. Nama akrab saya sudah banyak sekali berganti dan berubah-ubah seiring bertambahnya usia. Alhamdulillah, masih ada yang memanggil saya Dwi #lega.

Tentunya setiap orang senang dipanggil dengan nama yang sudah melekat pada diri mereka yang merupakan pemberian orang tua mereka. Satu hal, kata seorang Prabu Revolusi seseorang pasti lebih senang disapa dengan namanya daripada ‘Hei, Kamu..’ atau ‘Anda’ karena dengan begitu akan terjalin komunikasi dan hubungan yang lebih dekat–karena terindikasi rasa simpati #yang ini ngasal. Daripada dipanggil ‘Hei, Kamu..’ atau ‘Anda’ kan tidak jelas siapa yang dimaksud. Kalau dipanggil nama mah lebih jelas tentunya. Itulah mengapa saya senang disapa dengan nama yang sudah melekat pada diri saya.

Adapun sapaan Dudu adalah sapaan akrab saya oleh beberapa teman sekelas saya sejak menginjak akhir masa SMA. Awalnya agak aneh, tapi setelah didengar-dengar. Enak juga. Dan lagi waktu itu adalah waktu di mana kami saling menyapa dengan suku kata nama panggilan kami yang diulang dua kali. Itupun yang namanya masih bisa dibuat begitu, tapi ada juga yang tetap memaksa sesuka hati—termasuk saya. Jadilah nama saya menjadi Dudu.

Lalu, Tuppie itu apa? Ceritanya panjaaaaaaaang banget. Cerita lama yang sekarang terbingkai rapi menjadi salah satu kenangan unik (bisa dibilang aneh) di hati. Disingkat aja deh. Panggilan ini pertama kali keluar dari kakak kos SMA saya. Karena saking seringnya dia liat nama laptop saya yang waktu itu terindikasi alay dan menanyakan apa maksud dari tulisan ‘2P’ waktu di nama itu. Waktu itu saya menjawab sekenanya saja: dua itu berarti Dwi dan P itu singkatan nama belakangku. Saya berpikir, ‘Ah, alibi yang pas dan bagus juga’. Padahal makna sebelumnya bukan itu dan sekarang pun akhirnya makna terakhir itulah yang saya jadikan makna sesungguhnya. Akhirnya, kakak-kakak kos saya pun mulai memanggil saya dengan panggilan baru ‘tuppie’—dari ‘2P’ yang dibaca two-phi—yang berlanjut pada adik kos saya yang memanggil saya dengan panggilan ‘phi phi’ atau ‘22/7 22/7’. Dasar anak kecil bisanya ikut-ikutan, tapi kreatif juga :D. Saya pun kembali menikmati panggilan baru yang melekat pada diri saya.

Itulah sekilas warna-warni hidup saya dengan nama pemberian orang tua saya ini.
Akhir kata, rasa syukur semoga tetap di hati.
Alhamdulillah sudah diberi nama yang cukup bagus dan baik.
Terima kasih sudah membaca.
Ini adalah salah satu tulisan yang mungkin kurang kerjaan hasil orang yang ‘sok’ kurang kerjaan padahal…

Baiklah, sekian cerita saya. Lain kali akan dilanjutkan dengan tema yang lain pula.
Insya Allah. 🙂
Terima kasih kunjungannya. 🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s