Tinggalkan Karya Terbaik :)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah bisa nerusin nulis lagi, hehe
Eh ya, sebelumnya saya ingin mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1432 H

Semoga ke depan kita menjadi insan yang lebih baik dan senantiasa dekat dengan-Nya. Aamiin.
Udah dapat daging korban belum nih?

Btw, asyik ya yang lagi pada pesta daging kurban, hati-hati ya jangan-jangan nanti berubah jadi kambing atau sapi lagi kalau kebanyakan makannya 😀
Ehehe, gak bagi-bagi sih :p

Hmm, di rumah lagi pada nyate ga ya?
Uwoh uwoh, pertama kalinya lebaran haji di tanah rantau
gak makan daging kurban, gak nyate -_-
tak apalah, pasti ada hikmahnya 🙂
Insya Allah, ya kan, teman?

Eh ya, selamat menikmati rezeki yang diberikan Allah. Semoga berkah. Aamiin.
Bicara soal kurban dan berkurban, kebetulan kemarin hari Jumat saya sempat ikut seminar menyambut hari Raya Idul Adha 1432 H di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI yang bertemakan ‘Berkurban: Inspirasi dan Motivasi untuk Berbagi’. Di seminar tersebut dibahas tentang makna berkurban. Sebenarnya ada banyak, tetapi hanya lima yang dibahas, kurang lebih seperti ini isinya:

1. Keseimbangan hidup
Keseimbangan hidup itu dibagi menjadi dua, keseimbangan eksternal dan internal. Keseimbangan internal adalah seimbang akal, hati, dan jasad. Keseimbangan eksternal adalah keseimbangan dalam peran kita selama hidup. Agar seimbang, kita perlu introspeksi diri (muhasabah).

2. Konsisten/Istiqomah (Tekun) Menuju Cita-cita
Istiqomah dan sabar memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya saling mengikat. Ibarat dalam matematika diskret, terdapat hubungan biimplikasi di antara keduanya :). Untuk istiqomah, kita perlu sabar dan kita bisa sabar hanya jika kita istiqomah. Berikut diberikan tips-tipsnya:
– “Innamal a’malu binniyat”: amal seseorang itu bergantung pada niatnya. Jadi, luruskan niat ya . Niatkan semua karena Allah, mendekatlah s’lalu pada Allah. insyaAllah terjaga dari segala maksiat yang merintang.
– ‘Bakar’ perahu, hilangkan semua penghalang. Jauhkan diri dari segala godaan yang menghalangi kita menuju tujuan sesungguhnya.
– Visualisasi tujuan. Bayangkan cita-cita itu tercapai, bayangkan indahnya mencapai cita-cita setelah jerih payah dan kerja keras serta do’a kita lakukan dan panjatkan.
– Ceritakan keinginan diri kita. Ceritakan hanya pada orang-orang yang kita percaya. Ceritakan pada orang-orang yang memiliki pandangan positif, yang mendukung kita, yang membakar semangat kita. Dengan begitu, kita akan merasa berhutang jika cita-cita kita belum tercapai, kita akan malu jika belum terpenuhi keinginan kita. Selain itu, kita juga menjadi diingatkan kalau kita lalai.
Satu lagi pesan dari saya, ini adalah mantra yang saya dapat dari teman saya. Mantra yang memang benar adanya, mantra ajaib. ‘Man jadda wa jada’, siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan mendapatkan.

3. Bersyukur
Syetan telah berjanji pada Allah untuk selalu menyesatkan kita, dari depan dan belakang, dari samping kanan dan samping kiri. Syetan tahu betul jika kita lalai dan tidak bersyukur, mudah sekali bagi kita untuk terjerumus ke neraka. Syetan ingin kita tidak bersyukur. Untuk itu, mari kita perbanyak rasa syukur kita. Syukur lahir dan batin. Paling tidak mengucapkan hamdalah: ‘Alhamdulillah’ atau memuji dan berdzikir kepada Allah. Banyak cara untuk bersyukur, tapi hakikatnya hati kita mengakui nikmat dari-Nya dan berterima kasih atas itu. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Aamiin.
Satu lagi, Allah juga berjanji akan menambah nikmat-Nya bagi orang-orang yang bersyukur. Insya Allah.

4. Berbagi dan memberikan manfaat
Hakikat berbagi adalah kita member apa yang menjadi hak orang lain. Hak yang dititipkan pada kita. Sebenarnya kita tidak punya apa-apa. Kita memberi pun yang kita berikan bukanlah milik kita, itu hanya titipan-Nya. Semua yang ada pada kita adalah milik Allah. Jadi, sebenarnya kita tidak memberikan apa-apa untuk orang lain. Salah satu manfaat berbagi adalah hati kita menjadi lapang dan bahagia. Dan sejatinya, orang yang bahagia itu pasti senang, tapi orang yang senang belum tentu bahagia.
Saya jadi ingat kata-kata teman saya yang kalau tidak salah mengutip kata-kata KH. Zainuddin MZ(alm.) kira-kira begini: “hiduplah seperti tukang parkir”. Ada makna mendalam di balik kalimat sederhana tersebut. Orang parkir senang ada kendaraan yang parkir, tapi mereka juga tidak bersedih jika kendaraan tersebut pergi. Begitulah kiranya hidup kita seharusnya. Mari kita sama-sama belajar menyukuri apa yang ada pada kita dan berlapang jika salah satu atau beberapa yang kita miliki diambil kembai oleh-Nya atau tidak kita miliki lagi:).
Satu lagi, indikator dari orang yang member manfaat bagi orang lain adalah orang lain merasa berarti dan dihargai. Mari kita sama-sama berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat karena sebaik-baik orang adalah orang yang banyak member manfaat pada orang lain (sesamanya).
5. Warisan yang bermakna
Ada beberapa poin penting tentang ini:
– Bersegeralah bergegas karena kematian dating tiba-tiba
– Tinggalkan amal baik
– Ciptakan karya terbaik
‘Innamal a’malu biikhrati’, sesungguhnya amal itu bergantung pada hasil akhir.
Mari ciptakan karya terbaik.:)

Kiranya hanya itu yang bisa saya bagi, semoga bermanfaat. Aamiin.

Jazakumullah khairan katsiraa’. 🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s