Kakak Beradik: Makna di Balik Kenakalan si Kakak

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Kamis, 28 Juli 2011, ceritanya saya mau cap 3 jari ke sekolah dan berangkat dari rumah naik angkot. Nah, untuk ke sekolah (SMA), saya harus naik angkot dua kali. Waktu yang ditempuh pun tidak bisa diduga. Hanya saja jika berangkat dari rumahnya agak siang (lebih dari jam delapan), waktu yang diperlukan biasanya lebih lama daripada jika berangkat sebelum jam delapan. Hal ini karena angkot yang saya naiki pertama mengetem (berhenti di suatu tempat/pangkalan untuk waktu yang cukup lama) terlebih dahulu jika jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih.

Saat saya sudah berada di dalam angkot kedua, sekitar pukul 10 lebih 30 menit dari dalam angkot, saya melihat seorang ibu dengan menggandeng kedua putranya berjalan mendekat dari arah pasar. Dari jarak beberapa meter terlihat ibu itu agak kerepotan menggandeng kedua putranya menuju angkot. Ibu itu pun masuk dan duduk bersama kedua putranya tepat berseberangan dengan saya di pojok belakang angkot. Seperti biasa, saya sering mengamati orang-orang yang berada di dalam angkot barang sebentar untuk kemudian menenggelamkan diri dalam pikiran sendiri yang berkelana ke mana-mana. Atau melayangkan pandang ke luar jendela dan merekam potret kecil kehidupan di jalanan. Mengamati orang-orang, menikmati pemandangan alam, dan memandang jauh ke langit biru. Kembali ke dalam liarnya pemikiran. Atau lebih asyik lagi jika ditemani sebuah buku lalu menenggelamkan diri dalam buaian kata demi kata.

Kali ini ada objek pengamatan yang cukup bagus. Cukup ampuh mengalihkan perhatian saya dari si buku. Hehe ๐Ÿ˜€ Seorang ibu dan kedua putranya yang masih kecil, terutama kedua bocah kecil ini. Dua anak laki-laki yang selisih umurnya dua tahun (kok tau? tau dong, kebetulan waktu itu ada orang yang nanya trus si ibu ngejawab kalo beda umurnya dua tahun. Hihihii :P). Kedua bocah ini mengingatkan saya pada memori saya waktu kecil. Saya dan kakak saya hanya selisih satu tahun 2 bulan (kira-kira) dan lagi kami perempuan :P.

Tingkah kedua bocil (bocah kecil: red.–biar gambang ngomongnya, hehe) ini pun tak luput dari sorot mata saya. Walaupun sesekali saya memalingkan muka dan melayangkan pandang ke penjuru lain–terutama ke luar jendela juga kembali ke buku–tapi saya tetap mengamati tingkah mereka dan bagaimana reaksi ibu mereka terhadap tingkah putranya itu. Beberapa saat setelah masuk dan duduk di dalam angkot. Si kakak sambil menyedot susu kemasan bilang kurang lebih begini,
“Ini baru lho, rasa coklat, enak”
dan si adik pun membalasnya, “Enakan ini” sambil tetap asyik menikmati minuman jelly-nya.
Setelah minuman si kakak habis, ia pun segera membuka satu bungkus sosis siap santap.

Klimaks cerita pun dimulai saat si kakak mulai menikmati sosisnya. Cara menikmatinya unik, dengan me-lomot(saya kurang tahu bahasa Indonesianya apa)ย sosis, memasukkan ke dalam mulut dan mengeluarkannya lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa lama sosis itu belum tergigit sama sekali. Aksinya pun dilancarkan. Dia memamerkan sosisnya sambil terus me-lomotinya pada si adik dan berkata,
“Enak lho…”
Masih dengan minuman jelly yang ada di tangannya, si adik pun mulai tergiur. Dia pun mengeluarkan sosisnya lalu memberikannya pada si Ibu dan meminta untuk dibukakan bungkusnya. Dia pun segera melalapnya sampai habis.

Kau tahu apa yang dilakukan si kakak? Dia masih dengan sosisnya yang nyaris utuh. Hanya beberapa kali digigitnya dan itupun tak seberapa. Sebelumnya, saat sosis si adik baru beberapa kali digitit, si kakak bilang,
“Kalau sosis adik habis, nggak boleh minta lho ya…” sambil senyum-senyum dan agaknya meledek.
“Yo, enggak” si adik pun menjawab dengan nada agak kesal sambil terus menikmati sosisnya.
Masya Allah, saya merasa geli dan gemas sendiri melihat tingkahnya. Apa memang anak kecil seperti itu? Saya juga merasa pernah mengalaminya. Hehe ๐Ÿ˜€

Lanjut. Beberapa saat setelah sosis si adik habis, si kakak pun kembali menjahili si adik.
Sambil memamerkan sosisnya yang nyaris masih utuh si kakak bilang sambil senyum-senyum meledek, “Adik nggak boleh minta lho ya, kan sosisnya udah abis.”
Si adik pun mulai kesal dan meminta sosis si kakak. Si kakak tidak mau memberinya. Sampai timbul sedikit keributan si Ibu pun melerainya dan si kakak dengan sigap melalap sosisnya yang nyaris utuh tadi sampai habis dalam sekejab. Mulutnya pun terlihat penuh dan sibuk mengunyah.

Sudah, setelah sosisnya habis keributan sudah selesai. Suasana sudah menjadi tenang dan kembali mereka menampakkan keakraban yang sebelumnya juga mereka tampakkan. Sampai kedua bocil dan Ibunya ini turun dari angkot, saya melihat mereka tampak senang. Saya pun merasa senang karena sudah terhibur dengan tingkah kedua bocil ini.

Lalu, kita dapat belajar apa dari tingkah kedua bocil ini? Saya pun sebenarnya juga bingung apa ya yang bisa dipelajari, tapi saya ingat pada suatu hal. Kurang lebih saya pernah mendengar atau membaca begini: Belajarlah memaafkan dari anak kecil. Mereka mudah bertengkar, tetapi mudah sekali memaafkan dan melupakan kesalahan temannya. Tidak ada dendam atau apapun. Setelah selesai bertengkar, mereka tetap kembali akur dan bermain bersama. (dengan gubahan)

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Hidup ini terkadang memang aneh, lucu, menakjubkan, dan menyenangkan. Namun, di sisi lain hidup ini terkadang juga susah, berat, penuh perjuangan, dan melelahkan. Itulah hidup, banyak rasa, banyak cerita.

Hidup itu hanya sebentar, seperti kata orang bijak ‘cuma numpang minum’.

Imam Bukhory menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. memegang pundak Abdullah bin Umar r.a sambil berkata:

ูƒูู†ู’ ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽุฑููŠุจูŒ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุงุจูุฑู ุณูŽุจููŠู„ู

Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.

(sumberย http://mtaufiknt.wordpress.com/2011/01/12/khutbah-jumat-hiduplah-di-dunia-laksana-orang-asing-atau-musafir/)

Mari kita manfaatkan hidup sebaik-baiknya, berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga kita termasuk orang yang fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan semoga Allah swt. selalu memberikan petunjuk dan hidayah-Nya pada kita. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Semoga kita tetap dalam kesadaran akan makna hidup sesungguhnya. Aamiin.

Mohon maaf apabila ada yang salah dan tidak berkenan di hati.
Berhubung hari ini juga awal (hari pertama) puasa Ramadhan, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita mendapat limpahan berkah dan rahmat dari-Nya dan ke depan menjadi insan yang lebih baik, meningkat iman dan taqwa kita. Semoga Allah mengampuni dosa dan khilaf kita selama ini. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Jazakallu khairan katsiraa’.lucunya

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s