Akhirnya, Air Itu Menetes Juga dari Pelupuk Mataku :D

Ya Allah, izinkanlah aku menangis hanya karena-Mu, untuk-Mu, atas izin-Mu. Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Assalamu’alaikum ww.

Alhamdulillah, setelah beberapa waktu ini kurasakan sulitnya meneteskan air itu, akhirnya kini aku meneteskannya tanpa harus memaksanya. Yah, tanpa harus dipaksa keinginanku untuk meneteskannya. Hari ini, baru saja, aku meneteskan air itu. Air yang sedikit melegakan, mungkin cukup melegakan bagiku. Entahlah.

Akhir-akhir ini, selama kurang lebih seminggu atau dua minggu ini aku merasa ada sesuatu hal yang kurang. Sesuatu hal yang mengganjal dan aku mulai merasakan ketidaknyamanan itu. Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa. Sulit, sungguh aku merasa sulit untuk meneteskan air itu. Setiap aku berusaha untuk mengingat-ingat dan memikirkan segala hal agar aku bisa menangis, berusaha mengingat-ingat semua hal yang membuatku sedih, kecewa, marah, dan segala rasa yang tak menentu hanya untuk bisa kembali meneteskan air mata itu dengan lancar. Ya, lancar, mulus, mudah. Tapi apa? Ya Allah, mungkin ini jawaban dari-Mu atas keinginanku itu. Tapi, apakah berarti aku tak mengingat dosa-dosaku atau aku bahkan tak bisa menangisinya karena-Mu? Entahlah.
Sungguh, sebelumnya aku memang ingin menangis hanya karena-Mu, terutama karena mengingat dosa-dosaku, ya Rabb.

Beberapa minggu sebelumnya, memang cukup sering aku meneteskan air itu. Karena suatu hal yang membuat pikiranku terus-menerus memikirkannya dan cukup sulit untuk melepaskannya begitu saja. Setiap aku mengingat hal itu, air itu sudah siap jatuh dan mengalir lewat pelupuk mataku. Sering, cukup sering, atau bahkan sangat sering. Setiap aku menangis, aku berusaha menyembunyikannya, mengusap air mataku sebelum ada yang tahu aku menangis. Pun ketika ayahku menasihatiku dan aku menahan diri agar tidak menangis dan tetap tenang. Tapi, lidahku kelu, tenggorokanku seakan ada yang mengganjal. Entahlah.

Saat itu, aku benar-benar merasa lelah menangis. Aku lelah dan kecewa pada diriku sendiri kenapa harus menangisinya, selalu menangis setiap mengingatnya. Ya, apalah dayaku. Saat itu aku berpikiran dan berkeinginan untuk menangis hanya jika aku teringat akan dosa-dosaku. Aku tak ingin menangisi hal macam itu lagi–hal-hal yang sangat duniawi seperti itu. Aku ingin menangis karena mengingat-Nya. Aku ingin menangis karena-Nya. Hanya untuk-Nya. Itu yang kuinginkan saat itu.

Mungkin inilah jawaban dari-Nya, inilah yang Dia berikan sebagai jawaban atas keinginanku itu. Saat aku ingin menangis, itu takkan semudah dulu lagi.

Aku juga sering berpikiran dan menghubungkan antara kesedihan dan kesenangan dalam hidup ini. Hal ini berdasarkan apa yang kualami. Suatu saat ketika aku menangis, aku berpikiran: tak lama lagi ada hal yang akan membuatku tersenyum mungkin tertawa senang. Pun sebaliknya, ketika aku sedang senang dan tertawa lalu pikiran itu muncul lagi: sepertinya tak lama setelah ini ada hal yang akan membuatku sedih, kecewa, bahkan menangis. Karena pikiran itu, aku sendiri selalu berusaha menahan diri terutama menahan untuk tertawa berlebihan setiap kali pikiran itu muncul lagi. Karena sedih atau senang itu juga berawal dari yang kita rasakan dan pikirkan.

Dari hal itu aku berkesimpulan: hidup memang harus seimbang antara suka dan duka, tangis dan tawa, bahagia dan nestapa. Dengan adanya keseimbangan itu, mungkin hidup kita lebih teratur, nyaman, dan tenteram (dalam hal ini lebih kepada mental/psikis yang bisa juga berdampak pada fisik). Jadi, jika tertawa yang biasa saja, karena kesenangan itu sesaat. Pun jika bersedih, singkat saja–sebentar saja, karena pasti ada rahasia indah di balik penyebab kesedihan itu.

Aku pernah membaca suatu dalil yang kurang lebih begini intinya: Allah tidak akan menguji hambanya dengan kelaparan, kesedihan, penderitaan, melainkan Dia menghapus dosa-dosa(hamba)nya itu.
(dalam hal ini apabila kelaparan, kesedihan, dan penderitaan itu dilaluinya dengan ikhlas dan sabar)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sabar dan ikhlas.
Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang selalu berpaham ‘ada udang di balik batu’: pasti ada hikmah di balik segala sesuatu yang menjadi kehendak-Nya.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah, taufik, dan inayah-Nya kepada kita semua.
Aamiin aamiin aamiin ya robbal ‘alamiin.

Sekian.

Jazakallahu khair.

Wassalamu’alaikum ww.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s